ZERO
EPISODE 3 - BAYANGAN MASA LALU
"Semua orang melihat hasil. Sangat sedikit yang memahami proses. Kisah ini dimulai dari titik nol... ZERO."
— RUANG RAPAT MANAJEMEN SEKOLAH
Siang hari.
Pintu ruang rapat tertutup.
Suasana di dalam ruangan terasa tegang.
Di meja utama duduk:
Kepala Sekolah
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan
Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana
Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas
Kepala Tata Usaha
Beberapa berkas berada di atas meja.
Termasuk...
MAP COKELAT MILIK ARJUNA.
Kepala sekolah membuka rapat.
KEPALA SEKOLAH:
"Baik. Saya rasa kita semua tahu alasan kenapa rapat ini harus dilakukan."
Wakil Kesiswaan langsung menjawab.
WAKA KESISWAAN:
"Masalah kejadian di koridor tadi pagi?"
Kepala sekolah mengangguk.
KEPALA SEKOLAH:
"Ya."
Ruangan hening.
Waka Kesiswaan menyalakan laptop.
Rekaman CCTV ditampilkan di layar.
Terlihat Arjuna berjalan mendekati kerumunan.
Kemudian terlihat seorang siswa mencoba memukul Arjuna.
Arjuna menghindar.
Dalam beberapa detik...
Tiga siswa tersebut berhasil dilumpuhkan.
Video berhenti.
Ruangan terdiam.
WAKA SARPRAS:
"Saya sudah melihat rekamannya tiga kali."
Ia menghela napas.
WAKA SARPRAS:
"Gerakannya sangat cepat."
WAKA HUMAS:
"Justru itu masalahnya."
Semua menoleh.
— PIHAK YANG KONTRA
Waka Humas membuka berkas.
WAKA HUMAS:
"Orang itu belum menjadi guru kita."
WAKA KESISWAAN:
"Tapi dia menghentikan bullying."
WAKA HUMAS:
"Saya tidak mengatakan tindakannya salah."
Ia menunjuk layar.
WAKA HUMAS:
"Tapi kalau salah satu siswa terluka parah?"
Tidak ada yang menjawab.
WAKA HUMAS:
"Siapa yang bertanggung jawab?"
Kepala Tata Usaha ikut berbicara.
KEPALA TU:
"Secara administrasi, dia bahkan belum tercatat sebagai pegawai."
Waka Kurikulum mengangguk.
WAKA KURIKULUM:
"Itu benar."
Ia membuka berkas Arjuna.
WAKA KURIKULUM:
"Lamaran ini sangat sederhana."
Ia membaca.
WAKA KURIKULUM:
"Tidak ada pengalaman mengajar yang jelas."
Kepala sekolah memperhatikan.
WAKA KURIKULUM:
"Riwayat pekerjaannya juga tidak lengkap."
Kepala TU menyela.
KEPALA TU:
"Bahkan ada beberapa tahun yang kosong."
Ruangan kembali hening.
— PIHAK YANG PRO
Waka Kesiswaan bersandar di kursinya.
WAKA KESISWAAN:
"Tapi justru saya melihat sesuatu yang berbeda."
Semua menoleh.
WAKA KESISWAAN:
"Kita sering mengajarkan siswa tentang keberanian."
Ia menunjuk layar.
WAKA KESISWAAN:
"Tadi pagi dia melihat seorang anak dibully."
Ia berhenti sebentar.
WAKA KESISWAAN:
"Guru-guru kita belum sampai di sana."
Ruangan menjadi sunyi.
WAKA KESISWAAN:
"Dia sudah lebih dulu bertindak."
Waka Humas langsung menanggapi.
WAKA HUMAS:
"Bertindak tanpa kewenangan."
WAKA KESISWAAN:
"Tapi dengan tujuan yang benar."
WAKA HUMAS:
"Tujuan yang benar tidak selalu membuat cara yang kita lakukan menjadi benar."
Keduanya saling menatap.
— PERDEBATAN MEMANAS
WAKA SARPRAS:
"Saya justru ingin tahu satu hal."
Ia melihat video kembali.
WAKA SARPRAS:
"Dari mana orang biasa bisa memiliki kemampuan seperti itu?"
Kepala sekolah menatapnya.
WAKA SARPRAS:
"Dia tidak panik."
WAKA SARPRAS:
"Tidak terlihat takut."
WAKA SARPRAS:
"Dan dia sama sekali tidak kehilangan kendali."
Kepala TU membuka berkas.
KEPALA TU:
"Saya sudah mencoba memeriksa dokumennya."
Semua memperhatikan.
KEPALA TU:
"Identitasnya valid."
WAKA KURIKULUM:
"Lalu?"
Kepala TU terdiam sesaat.
KEPALA TU:
"Tapi ada yang aneh."
KEPALA SEKOLAH:
"Apa?"
Kepala TU mengeluarkan satu lembar dokumen.
KEPALA TU:
"Riwayat hidupnya berhenti di beberapa tahun terakhir."
Waka Humas mengerutkan kening.
WAKA HUMAS:
"Maksudnya?"
KEPALA TU:
"Tidak ada penjelasan."
WAKA KURIKULUM:
"Kosong?"
Kepala TU mengangguk.
KEPALA TU:
"Kosong."
— KEPALA SEKOLAH MULAI CURIGA
Kepala sekolah mengambil berkas tersebut.
Ia membaca perlahan.
Kemudian menemukan satu lembar yang berbeda.
Ada tulisan tangan kecil di bagian bawah.
"Tidak untuk dipublikasikan."
Kepala sekolah mengangkat wajah.
KEPALA SEKOLAH:
"Siapa yang menulis ini?"
Kepala TU menjawab.
KEPALA TU:
"Ada di berkas yang dia serahkan."
Waka Humas langsung berkata:
WAKA HUMAS:
"Ini semakin tidak jelas."
Waka Kesiswaan justru tersenyum tipis.
WAKA KESISWAAN:
"Atau mungkin dia memang tidak ingin masa lalunya diketahui."
WAKA HUMAS:
"Dan itu menurut Anda bukan masalah?"
WAKA KESISWAAN:
"Belum tentu."
— KEPALA SEKOLAH MENGAMBIL KEPUTUSAN
Kepala sekolah menutup berkas.
Semua diam.
KEPALA SEKOLAH:
"Saya tidak mau kita mengambil keputusan hanya berdasarkan dugaan."
Ia melihat seluruh anggota rapat.
KEPALA SEKOLAH:
"Kita tidak tahu siapa Arjuna sebenarnya."
Waka Humas menyela.
WAKA HUMAS:
"Justru karena itu sebaiknya kita tidak menerimanya."
Kepala sekolah menggeleng.
KEPALA SEKOLAH:
"Saya tidak bilang kita akan langsung menerimanya."
Semua terdiam.
Kepala sekolah melanjutkan.
KEPALA SEKOLAH:
"Tetapi saya juga tidak akan menolaknya hanya karena dia berbeda."
— KEPUTUSAN
Kepala sekolah berdiri.
KEPALA SEKOLAH:
"Mulai besok..."
Semua menunggu.
KEPALA SEKOLAH:
"Arjuna kita panggil kembali."
Waka Humas terlihat tidak setuju.
WAKA HUMAS:
"Untuk apa?"
Kepala sekolah menjawab tegas.
KEPALA SEKOLAH:
"Untuk menjalani proses seleksi secara resmi."
Waka Kesiswaan tersenyum.
KEPALA SEKOLAH:
"Kita akan menguji kemampuan mengajarnya."
Kemudian ia menatap berkas tersebut.
KEPALA SEKOLAH:
"Dan kita akan meminta penjelasan mengenai bagian riwayat hidup yang kosong."
Ruangan hening.
KEPALA SEKOLAH:
"Kalau dia memang tidak menyembunyikan sesuatu yang membahayakan sekolah..."
Ia berhenti.
KEPALA SEKOLAH:
"...maka kita beri dia kesempatan."
Waka Humas masih terlihat ragu.
WAKA HUMAS:
"Dan kalau ternyata dia menyembunyikan sesuatu?"
Kepala sekolah menatapnya.
KEPALA SEKOLAH:
"Maka kita sendiri yang akan menemukan jawabannya."
— SETELAH RAPAT
Satu per satu anggota rapat meninggalkan ruangan.
Waka Kesiswaan masih berdiri di depan layar CCTV.
Ia memutar kembali rekaman Arjuna.
Gerakannya diperbesar.
Ia memperhatikan cara Arjuna menghindar.
Kemudian berkata pelan:
WAKA KESISWAAN:
"Orang ini..."
Ia tersenyum tipis.
"...sepertinya tidak sedang mencari pekerjaan."
Kepala sekolah yang masih berada di ruangan menoleh.
KEPALA SEKOLAH:
"Maksud Anda?"
Waka Kesiswaan menatap layar.
WAKA KESISWAAN:
"Saya merasa..."
Ia berhenti.
WAKA KESISWAAN:
"Justru sekolah ini yang sedang dia cari."
Kepala sekolah terdiam.
— MALAM HARI
Arjuna berada di sebuah kamar sederhana.
Ia meletakkan map cokelat di atas meja.
Ponselnya berdering.
Nomor sekolah.
Arjuna mengangkat telepon.
ARJUNA:
"Halo."
Suara kepala sekolah terdengar dari seberang.
KEPALA SEKOLAH:
"Pak Arjuna?"
ARJUNA:
"Ya."
KEPALA SEKOLAH:
"Besok pagi, bisa datang kembali ke sekolah?"
Arjuna terdiam sebentar.
ARJUNA:
"Untuk apa?"
KEPALA SEKOLAH:
"Kami ingin memberikan Anda kesempatan."
Arjuna tersenyum kecil.
ARJUNA:
"Baik."
Telepon ditutup.
Arjuna kemudian membuka laci.
Di dalamnya terdapat sebuah benda yang selama ini tidak pernah terlihat.
Sebuah foto lama.
Arjuna mengambilnya.
Dalam foto tersebut...
Arjuna terlihat jauh lebih muda.
Di sampingnya berdiri beberapa orang yang wajahnya sengaja tidak terlihat jelas.
Arjuna menatap foto itu.
Wajahnya berubah serius.
Ia membalik foto.
Di bagian belakang terdapat sebuah tulisan:
"Jangan pernah kembali."
Arjuna menutup mata.
Kemudian menyimpan kembali foto tersebut.
-TERAKHIR
Kamera berpindah ke sekolah.
Ruang kepala sekolah masih menyala.
Kepala sekolah duduk sendirian.
Di atas mejanya terdapat berkas Arjuna.
Ia membuka halaman terakhir.
Ada satu bagian yang diberi tanda merah.
"RIWAYAT KEGIATAN — TIDAK TERCANTUM."
Kepala sekolah menatap tulisan itu.
Kemudian berkata pelan:
"Siapa sebenarnya kamu, Arjuna?"
CUT TO BLACK.







