EPISODE 1 – LANGKAH PERTAMA SANG GURU
"Semua orang melihat hasil. Sangat sedikit yang memahami proses. Kisah ini dimulai dari titik nol... ZERO."
Langit Jakarta masih diselimuti mendung ketika matahari baru mulai menampakkan sinarnya. Jalanan ibu kota sudah dipenuhi kendaraan yang saling berebut waktu.
Di antara ribuan orang yang bergegas, seorang pria berjalan dengan langkah tenang.
Namanya Arjuna Wiratama.
Usianya sekitar dua puluh tujuh tahun.
Tubuhnya tegap, bahunya lebar, kumis tipis menghiasi wajahnya, dan rahangnya tegas seolah telah ditempa oleh ribuan cobaan hidup. Tatapannya tidak tajam karena amarah, melainkan teduh karena pengalaman.
Di tangan kirinya hanya ada sebuah map cokelat tua.
Di dalamnya tidak ada piagam penghargaan, tidak ada sertifikat yang berjejer, tidak ada surat rekomendasi dari tokoh terkenal.
Hanya sebuah ijazah dan beberapa lembar dokumen sederhana.
Arjuna berhenti di depan gerbang sebuah sekolah menengah atas negeri yang cukup terkenal di ibu kota.
Ia mengangkat kepalanya perlahan.
Di depan gerbang tertulis:
"Selamat Datang. Tempat Lahirnya Generasi Masa Depan."
Arjuna tersenyum tipis.
"Semoga aku bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka."
Ia melangkah masuk.
Di ruang administrasi, beberapa pelamar sudah duduk rapi.
Sebagian mengenakan jas mahal.
Ada yang membawa map penuh sertifikat.
Ada pula yang sibuk membicarakan prestasi mereka.
Ketika Arjuna duduk di pojok ruangan, beberapa orang melirik map tipis yang dibawanya.
"Mas... cuma bawa itu?" tanya salah satu pelamar.
Arjuna mengangguk sambil tersenyum.
"Ya."
"Lampiran sertifikatnya mana?"
"Tidak ada."
"Loh... pengalaman?"
"Ada."
"Buktinya?"
Arjuna tersenyum.
"Nanti waktu bekerja."
Ruangan mendadak hening.
Beberapa orang saling berpandangan, lalu tersenyum kecil, menganggap jawaban itu hanya bentuk kepercayaan diri yang berlebihan.
Namun Arjuna tidak terusik sedikit pun.
Baginya, kemampuan bukan untuk dipamerkan, melainkan dibuktikan.
Namanya dipanggil.
"Saudara Arjuna Wiratama."
Ia berdiri.
Langkahnya mantap.
Di dalam ruang wawancara sudah duduk kepala sekolah dan tiga orang guru senior.
"Silakan duduk."
"Terima kasih, Pak."
Kepala sekolah membuka map milik Arjuna.
Beliau tampak sedikit heran.
"Hanya ini berkas Anda?"
"Iya, Pak."
"Tidak punya sertifikat pelatihan?"
"Tidak."
"Prestasi?"
"Tidak ada yang saya bawa."
"Kenapa?"
Arjuna menarik napas pelan.
"Saya percaya, seorang guru tidak dinilai dari tebalnya map yang dibawa, tetapi dari perubahan yang mampu ia hadirkan di dalam kelas."
Ruangan kembali sunyi.
Salah satu guru senior menyandarkan badannya ke kursi.
"Kalau begitu, apa kelebihan Anda?"
Arjuna menjawab tanpa sedikit pun meninggikan suara.
"Saya tidak bisa menjanjikan semua murid menjadi juara."
"Tapi saya akan berusaha agar tidak ada satu pun murid yang merasa sendirian ketika belajar."
Kepala sekolah menatap Arjuna beberapa detik.
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa sangat tulus.
"Kenapa ingin menjadi guru?"
Arjuna menunduk sesaat.
Kemudian menjawab perlahan.
"Dulu... saya pernah hidup di lingkungan yang penuh kekerasan."
"Saya bertemu banyak orang yang mengajarkan cara bertarung."
"Tetapi sangat sedikit yang mengajarkan cara menjadi manusia."
"Saya tidak ingin anak-anak kehilangan kesempatan itu."
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada yang mengetahui bahwa pria di depan mereka adalah ahli bela diri yang telah berkali-kali menghadapi kerasnya kehidupan.
Yang mereka lihat hanyalah seorang calon guru dengan map tipis dan mata yang penuh ketenangan.
Wawancara pun selesai.
"Terima kasih, Pak Arjuna. Kami akan menghubungi Anda."
Arjuna berdiri.
Membungkukkan badan dengan hormat.
"Luar biasa atau tidak, keputusan tetap ada di tangan Bapak dan Ibu. Terima kasih sudah memberi kesempatan."
Ia melangkah keluar ruangan.
Saat melewati koridor sekolah, terdengar suara gaduh dari lapangan.
Beberapa siswa tampak sedang mengepung seorang anak yang lebih kecil.
Arjuna berhenti.
Tatapannya berubah.
Tenang.
Namun penuh kewaspadaan.
Ia menarik napas perlahan.
Lalu mulai melangkah menuju kerumunan itu...
BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar