ZERO
Episode 2 - GURU TANPA NAMA
"Semua orang melihat hasil. Sangat sedikit yang memahami proses. Kisah ini dimulai dari titik nol... ZERO."
KORIDOR SEKOLAH
Pagi hari.
Suasana sekolah begitu ramai.
Suara langkah kaki siswa bercampur dengan tawa dan percakapan. Beberapa siswa bergegas menuju kelas karena bel masuk hampir berbunyi.
Di salah satu koridor, tiba-tiba terdengar suara keributan.
BRAK!
Sebuah tas terjatuh ke lantai.
Beberapa siswa langsung berkumpul membentuk lingkaran.
Di tengah kerumunan terlihat seorang siswa bernama Raka, tubuhnya lebih kecil dibandingkan siswa lainnya. Seragamnya sedikit berantakan. Beberapa buku miliknya berserakan di lantai.
Di depannya berdiri tiga siswa senior.
DION, siswa paling besar di antara mereka, memegang buku Raka.
Dion membuka buku itu sambil tertawa.
DION:
"Ini buku punya kamu?"
Raka mengulurkan tangan.
RAKA:
"Iya... balikin."
Dion justru melempar buku itu ke lantai.
DION:
"Ambil sendiri."
Teman-temannya tertawa.
Beberapa siswa yang melihat hanya berani berbisik.
SISWA 1:
"Kasihan..."
SISWA 2:
"Jangan ikut campur. Mereka anak kelas tiga."
Raka menunduk dan mencoba mengambil bukunya.
Namun Dion kembali menendang buku itu hingga menjauh.
DION:
"Katanya mau ambil?"
Raka terdiam.
Tangannya mengepal.
Tetapi dia tidak berani melawan.
ARJUNA DATANG
Dari ujung koridor...
Seorang pria berjalan perlahan.
Kemeja putih sederhana.
Celana hitam.
Sepatu yang tampak sudah lama digunakan.
Di tangannya terdapat sebuah map tipis berwarna cokelat.
Namanya Arjuna Wiratama.
Ia sebenarnya baru saja datang ke sekolah untuk sebuah keperluan.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat kerumunan.
Arjuna memperhatikan beberapa detik.
Tidak panik.
Tidak marah.
Hanya memperhatikan.
Kemudian ia berjalan mendekat.
Kerumunan perlahan membuka jalan.
Arjuna berhenti tepat di depan Raka.
Ia melihat buku yang terjatuh.
Kemudian menatap Dion.
ARJUNA:
"Buku itu miliknya."
Dion menatap Arjuna dari atas ke bawah.
DION:
"Terus?"
Arjuna tetap tenang.
ARJUNA:
"Kembalikan."
Dion tertawa.
DION:
"Lo siapa?"
Arjuna tidak langsung menjawab.
Ia mengambil buku Raka dari lantai.
Membersihkan sedikit debunya.
Kemudian menyerahkannya kepada Raka.
ARJUNA:
"Pegang."
Raka menerima buku itu dengan bingung.
RAKA:
"Tapi..."
Arjuna menatapnya.
ARJUNA:
"Masuk kelas."
Raka masih ragu.
RAKA:
"Mereka..."
Arjuna kembali menatap Dion dan dua temannya.
ARJUNA:
"Biar saya yang bicara."
KONFRONTASI
Dion merasa tersinggung.
Ia melangkah mendekati Arjuna.
DION:
"Jangan sok jadi pahlawan di sekolah orang."
Arjuna tetap diam.
DION:
"Gue tanya, lo siapa?"
Arjuna menjawab singkat.
ARJUNA:
"Bukan siapa-siapa."
Beberapa siswa tertawa kecil.
Dion semakin emosi.
DION:
"Kalau bukan siapa-siapa, jangan ikut campur!"
Dion tiba-tiba melayangkan pukulan ke arah wajah Arjuna.
WHOOSH!
Namun...
Arjuna hanya menggeser kepalanya sedikit.
Pukulan itu lewat begitu saja.
Kerumunan langsung terdiam.
Dion terkejut.
DION:
"Apa—"
Sebelum Dion menyelesaikan kalimatnya, Arjuna menangkap lengannya.
Satu gerakan cepat.
DUK!
Dion kehilangan keseimbangan dan terdorong mundur.
Arjuna tidak memukul.
Tidak menendang.
Hanya mengendalikan gerakannya.
Teman Dion maju bersamaan.
PEMBULLY 2:
"Jangan ikut campur!"
Ia mencoba menyerang dari samping.
Arjuna berputar.
Dengan satu gerakan cepat, tangannya mengunci pergelangan tangan siswa tersebut dan mengarahkannya ke bawah.
PEMBULLY 2:
"Aduh!"
Arjuna melepaskannya.
Siswa itu mundur sambil memegang tangannya.
Satu siswa lainnya mencoba menerjang.
Arjuna melangkah ke samping.
Tubuh siswa itu kehilangan keseimbangan.
BRUK!
Ia jatuh terduduk.
Semua terjadi begitu cepat.
Tidak sampai beberapa detik.
Koridor mendadak sunyi.
Para siswa saling berpandangan.
DION MENCOBA LAGI
Dion bangkit.
Wajahnya merah karena malu.
DION:
"Kurang ajar!"
Ia kembali maju.
Kali ini Arjuna tidak bergerak banyak.
Ketika Dion mencoba meraih kerah bajunya...
Arjuna menghindar.
Tangannya bergerak cepat.
Dion kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
Arjuna berdiri di depannya.
Tenang.
Tidak ada ekspresi marah.
ARJUNA:
"Cukup."
Dion mencoba bangkit.
Arjuna menatapnya tajam.
ARJUNA:
"Kamu kuat."
Dion terdiam.
ARJUNA:
"Tapi orang yang benar-benar kuat tidak perlu membuat orang lain takut."
Dion menunduk.
Tidak mampu menjawab.
KORIDOR TERDIAM
Tidak ada yang berani berbicara.
Seorang siswi berbisik kepada temannya.
SISWI 1:
"Siapa dia?"
SISWI 2:
"Aku nggak tahu."
Seorang siswa lain menjawab pelan.
SISWA 3:
"Gila... gerakannya cepat banget."
Di lantai atas, beberapa guru yang mendengar keributan mulai keluar dari ruang guru.
Mereka melihat Arjuna berdiri di tengah koridor.
Seorang guru olahraga memperhatikan dengan serius.
GURU OLAHRAGA:
"Gerakan tadi..."
Guru di sampingnya menoleh.
GURU:
"Kenapa?"
Guru olahraga masih menatap Arjuna.
GURU OLAHRAGA:
"Dia bukan orang biasa."
ARJUNA MENOLONG RAKA
Arjuna berbalik.
Raka masih berdiri di tempatnya.
Arjuna menghampirinya.
ARJUNA:
"Kamu tidak apa-apa?"
Raka mengangguk.
RAKA:
"Tidak, Pak."
Arjuna melihat jam tangannya.
ARJUNA:
"Bel sebentar lagi."
Raka mengangguk.
Arjuna menunjuk ke arah kelas.
ARJUNA:
"Masuk."
Raka kemudian bertanya.
RAKA:
"Bapak guru baru?"
Arjuna tersenyum tipis.
ARJUNA:
"Belum."
RAKA:
"Terus Bapak siapa?"
Arjuna diam sebentar.
Kemudian menjawab:
ARJUNA:
"Orang yang kebetulan lewat."
Raka tersenyum.
RAKA:
"Terima kasih, Pak."
Arjuna mengangguk.
ARJUNA:
"Belajar yang baik."
Raka segera berlari menuju kelas.
ARJUNA PERGI
Para siswa masih memperhatikan Arjuna.
Ada yang kagum.
Ada yang penasaran.
Ada yang mulai berbisik.
SISWA 1:
"Dia siapa?"
SISWI 2:
"Kayaknya bukan guru."
SISWA 3:
"Tapi kalau bukan guru, kenapa dia bisa seperti itu?"
Arjuna tidak memperdulikan mereka.
Ia mengambil map cokelatnya yang tadi sempat diletakkan di atas meja dekat koridor.
Kemudian berjalan menuju gerbang.
Seorang guru mencoba memanggilnya.
GURU:
"Pak! Tunggu!"
Arjuna berhenti sebentar.
Ia menoleh.
Guru itu berjalan mendekat.
GURU:
"Anda guru baru di sini?"
Arjuna tersenyum kecil.
ARJUNA:
"Belum."
GURU:
"Lalu Anda siapa?"
Arjuna melihat ke arah gedung sekolah.
Kemudian kembali menatap guru tersebut.
ARJUNA:
"Mungkin... suatu hari nanti Anda akan tahu."
Arjuna melangkah pergi.
Guru itu hanya terdiam.
DEPAN GERBANG SEKOLAH
Arjuna keluar dari gerbang.
Sementara di lantai atas...
Puluhan siswa berdiri di dekat jendela.
Mereka melihat Arjuna semakin jauh.
SISWI:
"Gagah banget..."
SISWA:
"Bukan cuma gagah."
SISWA LAIN:
"Tangkas."
Guru olahraga masih berdiri di koridor.
Ia menatap Arjuna dengan penuh tanda tanya.
GURU OLAHRAGA:
"Siapa sebenarnya pria itu?"
CLOSE UP
Arjuna berjalan sendirian.
Map cokelat masih berada di tangannya.
Di dalam map tersebut terdapat surat lamaran menjadi guru.
Arjuna perlahan mendekat ke map.
Terlihat tulisan:
"Lamaran Tenaga Pendidik — Arjuna Wiratama."
Arjuna terus berjalan tanpa menoleh.
NARASI ARJUNA
"Kadang seseorang tidak perlu memperkenalkan dirinya..."
"Cukup tindakannya yang berbicara."
ZERO
GURU TANPA NAMA
BERSAMBUNG...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar