Bab 2: Langkah Kecil di Tapal Batas
Kepindahan keluarga besar itu membawa mereka ke sebuah desa yang asri, tepat di perbatasan antara Magelang dan Yogyakarta. Berbeda drastis dengan Jakarta yang selalu berdenyut dan terpanggang terik matahari, asrama tentara tempat ayah berdinas kini dikelilingi hamparan sawah hijau yang memanjakan mata. Setiap pagi, kabut tipis masih menggantung manja di udara, membawa hawa sejuk yang membuat embun bertahan lebih lama di ujung-ujung dedaunan.
Meski jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, lingkungan baru Putra sama sekali tidak sepi. Tepat di sekitar rumah dinas mereka, terdapat sebuah terminal angkot kecil yang menjadi urat nadi pergerakan warga desa. Pemandangan di sana begitu hidup dan harmonis; deretan angkot yang bersiap menarik penumpang bersanding rukun dengan bangunan kantor polisi, serta sebuah tempat ibadah yang suaranya selalu meneduhkan hati setiap kali waktu salat tiba. Bagi Putra yang perlahan tumbuh menjadi bocah lincah, tempat ini adalah arena bermain yang tanpa batas. Ia tidak pernah kekurangan teman. Banyak anak-anak desa sepantaran yang dengan cepat menjadi sahabat karibnya, mengajaknya berlarian menyusuri pematang sawah yang berbau tanah basah atau sekadar duduk berjejer di pinggir jalan, menonton hiruk-pikuk terminal kecil itu.
Di tengah hari-hari yang dihabiskan dengan tawa dan kulit yang perlahan mulai menggelap karena matahari desa, tibalah sebuah babak baru. Ayah, dengan insting pendidiknya yang disiplin, mendaftarkan Putra ke sebuah Taman Kanak-Kanak. Jaraknya lumayan jauh untuk ukuran langkah pendek seorang bocah; butuh sekitar lima belas menit berjalan kaki dari rumah dinas.
Pagi itu, dengan seragam yang disetrika rapi oleh ibu dan tas ransel mungil di punggung, Putra memulai rute harian barunya. Tangan kecilnya digenggam erat oleh ibu atau terkadang oleh kakak perempuannya yang bergantian mengantar. Perjalanan lima belas menit itu tidak pernah terasa sebagai beban. Rute menuju sekolah adalah rute petualangan: melewati tepi sawah yang menguning, menyapa pak tani yang sedang mencangkul, melintasi depan kantor polisi tempat ayah kadang bertegur sapa dengan petugas, hingga mendengar gemuruh mesin angkot yang memanaskan mesin. Di jalanan desa perbatasan itulah, langkah-langkah kecil Putra mulai merangkai keberaniannya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar