Selasa, 27 Oktober 2026

Jejak Ransel Kecil di Bawah Langit Tidar

 Judul Bab Pertama: Selamat Tinggal, Bising Ibukota

Deru mesin truk militer berwarna hijau tua memecah pagi Jakarta yang sudah mulai terasa gerah, meski matahari baru saja mengintip di ufuk timur. Di halaman rumah dinas yang kini dipenuhi tumpukan kardus dan koper, Putra yang baru berusia empat tahun berdiri memeluk erat mainan kayu kesayangannya. Mata bulatnya menatap heran pada kesibukan yang luar biasa pagi itu. Keluarganya yang besar sedang bersiap untuk sebuah perjalanan panjang. Empat kakak perempuannya yang beranjak remaja sibuk membantu ibu memastikan tidak ada barang yang tertinggal, sementara satu-satunya kakak laki-lakinya dengan bangga ikut mengangkat tas kanvas hijau milik ayah ke atas bak truk.

Ayah Putra, seorang perwira tentara dengan perawakan tegap dan wibawa yang selalu membuat orang segan, berjalan menghampiri Putra. Di balik ketegasannya memimpin pasukan, ayah selalu memiliki tatapan yang paling lembut untuk anak-anaknya. Ia berjongkok menyamakan tinggi dengan jagoan kecilnya, lalu tangan besarnya yang kasar namun hangat mengusap puncak kepala Putra. Ayah tersenyum dan berbisik bahwa mereka akan segera meninggalkan suara klakson dan udara panas Jakarta. Mereka akan pergi ke sebuah kota yang udaranya selalu sejuk, di mana gunung-gunung berdiri gagah dan pepohonan hijau membentang luas. Kota Magelang.

Ibu, seorang wanita luar biasa tangguh yang terbiasa menjadi komandan bagi enam anak di rumah, memanggil mereka dengan suara lembut dari ambang pintu. Membesarkan dua anak laki-laki dan empat anak perempuan bukanlah tugas yang mudah, tetapi di bawah sayap ibu, keluarga ini selalu dipenuhi gelak tawa yang riuh. Saat Putra akhirnya duduk di dalam kendaraan dan roda mulai berputar meninggalkan hiruk-pikuk jalanan ibu kota, ia menempelkan wajahnya di kaca jendela. Gedung-gedung tinggi yang menjulang perlahan tertinggal di belakang, berganti dengan bayangan jalan raya panjang yang mengarah ke Jawa Tengah. Diiringi celoteh riang saudara-saudaranya dan hembusan angin yang perlahan mulai terasa berbeda, bocah empat tahun itu memejamkan mata, membawa serta rasa penasarannya menuju lembaran hidup yang baru di kaki Gunung Tidar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar