Di dahan tua buah itu menggantung,
menunggu musim menyempurnakan untung.
Ditempa panas, dicuci hujan,
tak pernah mengeluh pada lamanya perjalanan.
Namun di sudut gelap yang penuh asap,
ada yang tak sabar menunggu nasib menetap.
Semalam diasapi, pagi dipuji,
sore hari sibuk mencari tepuk tangan lagi.
Kulitnya kuning, senyumnya manis,
kata-katanya tinggi menjulang ke langit.
Tapi saat waktu mengupas lapisan luar,
terlihatlah isi yang belum benar-benar matang.
Kini banyak yang ingin dipanen sebelum bertumbuh,
ingin dihormati sebelum berilmu,
ingin memimpin sebelum memahami,
ingin dipuji sebelum memberi arti.
Baru setitik tahu, sudah merasa samudra.
Baru sebatas suara, sudah mengaku legenda.
Baru diberi kursi, merasa singgasana.
Baru diberi lampu, mengira dirinya mentari dunia.
Mereka lupa...
Pohon tak pernah berteriak bahwa buahnya manis.
Sungai tak pernah mengumumkan bahwa airnya jernih.
Emas tak perlu beriklan bahwa dirinya berharga.
Hanya yang ragu pada kualitasnya yang sibuk menjual citra.
Sebab yang benar-benar matang tidak haus pengakuan.
Ia tenang menghadapi penilaian.
Karena kualitas tak lahir dari sorotan,
melainkan dari kesabaran dan pengorbanan.
Biarlah mereka berlari dengan karbitnya,
memoles warna demi pujian sesaat.
Waktu adalah hakim yang tak bisa disuap,
dan kenyataan adalah pisau yang tak bisa dibohongi.
Kelak akan terlihat jelas perbedaannya:
Yang matang karena proses,
akan semakin manis saat diuji.
Yang matang karena paksaan,
akan membusuk sebelum sempat berarti.
Karena alam selalu jujur:
yang terlihat matang belum tentu siap,
dan yang paling sering dipamerkan,
sering kali adalah yang paling takut diuji.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar